Archive

Archive for the ‘Krisis Iklim’ Category

Hasil Jambu Mete Menurun

September 9, 2009 Leave a comment

LARANTUKA, POS-KUPANG.COM—Siklus hujan yang tidak menentu di wilayah Kabupaten Flores Timur berdampak pada menurunnya hasil panen biji mete. Hujan gerimis diikuti panas terik membuat bunga mete berguguran dan tidak menghasilkan biji. Kondisi ini berdampak pada menurunnya pendapatan petani mete.
Read more…

Gagal Panen di Rote Ndao Akibat Iklim

September 8, 2009 Leave a comment

BA’A, POS-KUPANG.COM — Gagal panen yang berdampak pada rawan pangan yang terjadi pada dua kecamatan di Kabupaten Rote Ndao akibat faktor iklim. Meski demikian, gagal panen itu belum merupakan kejadian luar biasa (KLB). Sebagai langkah preventif, pemerintah setiap tahun telah menyediakan cadangan dana untuk Mengantisipasinya.
Read more…

Warga Labuan Bajo Agar Waspadai Diare Puskesmas Labuan Bajo Rawat 16 Pasien Diare

September 4, 2009 Leave a comment

LABUAN BAJO, POS-KUPANG — Warga kota Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat hendaknya mewaspadai penyakit diare. Pasalnya saat ini, jumlah pasien diare yang dirawat di Puskesmas Labuan Bajo, mengalami peningkatan. Selama dua hari terakhir, Rabu (2/9/2009) dan Kamis (3/9/2009), puskesmas itu merawat 16 pasien diare.
Read more…

El Nino Hingga Nopember

KUPANG, POS-KUPANG.Com– Dampak el nino di NTT tahun 2009 ini diperkirakan akan terjadi hingga November mendatang. Itu berarti NTT akan mengalami pergeseran musim.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Propinsi NTT, Ir. Petrus Langoday, ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (28/8/2009). “Kami memprediksikan el nino akan melanda NTT hingga November 2009 nanti. Itu berarti NTT akan mengalami pergeseran musim tanam dan dampaknya, masa paceklik akan lebih lama melanda  petani,” ujar Langoday.
Read more…

Categories: Krisis Iklim

NTT Masuk Musim Kering

Kamis, 27 Agustus 2009 | 07:57 WITA
Laporan Obby Lewanmeru

KUPANG, POS-KUPANG.Com — Hampir semua wilayah di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kini memasuki sudah musim kering. Potensi kekeringan sudah terjadi di pantai utara Folres, Sumba dan Timor.
Read more…

Antisipasi El Nino dengan Semangat Tanam

Minggu, 16 Agustus 2009 | 19:35 WITA

KUPANG, POS KUPANG. com — Gubernur NTT, Drs.Frans Lebu Raya mengimbau kepada masyarakat NTT supaya bersemangat menanam tanaman umur pendek yang bernilai ekonomis tinggi sebagai salah satu upaya menghadapi kekeringan akibat El Nino.

Read more…

Ancaman El Nino Serius Melanda Warga NTT

Sabtu, 15 Agustus 2009 20:20 WIB

Kupang (ANTARA News) – Prakirawan Klimatologi El Tari Kupang, Mochammad Saiful, memperkirakan, ancaman El Nino yang saat ini serius melanda warga Nusa Tengara Timur (NTT), terutama masyarakat di Pulau Sumba, Flores bagian Timur dan Alor.

“Di wilayah Sumba, Flores bagian Timur dan Alor NTT, diperkirakan musim hujan baru akan terjadi pada akhir Desember dari biasanya antara akhir Oktober hingga awal November,” katanya di Kupang, Sabtu.
Read more…

Hujan Bergeser dari Siklus 20 Tahunan

Jumat, 24 Juli 2009 00:52 WIB

Luwuk, Sulteng (ANTARA News) – Intensitas musim hujan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, bergeser dari siklus 20 tahun, sehingga telah mengganggu aktivitas para petani, nelayan, serta kelompok masyarakat lain setempat yang usahanya bergantung dengan kondisi cuaca.

Pergeseran tersebut terjadi sejak 2005 dan pergeseran terjauh berlangsung pada tahun 2008 lalu.

Jasirin, kepala Stasiun Meteorologi Luwuk (ibukota Kabupaten Banggai), Kamis, menjelaskan puncak curah hujan di daerahnya selama 20 tahun sebelum tahun 2005, selalu terjadi antara bulan Maret hingga Mei.

Akan tetapi, setelah itu, puncak hujan terjadi hanya pada bulan Mei selama 24 hari dengan intensitas curahnya mencapai 188 milimeter.

Bahkan pergeseran ekstrim terjadi pada tahun 2008, di mana puncak hujan terjadi di bulan Juli selama 27 hari dengan besaran curah 466 milimeter, sehingga sempat menimbulkan banjir besar di mana-mana.

Jasirin memperkirakan, pergeseran puncak curah hujan tersebut akibat pengaruh dari pemanasan global yang mendorong terjadinya perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu.

“Pergeseran siklus hujan itu sudah kami diperidiksi sebelumnya, menyusul tingginya tingkat curah hujan lokal di Kabupaten Banggai selama empat tahun terakhir dan merupakan fenomena terbaru,” tuturnya.

Menurut dia, munculnya hujan lokal dengan intensitas tinggi juga banyak dipengaruhi oleh rusaknya kawasan hutan dan daerah hijau di perkotaan dalam jumlah besar, selain faktor tingginya polusi udara.

“Masalah-masalah tersebut yang kemudian mengakibatkan daya dukung lingkungan menjadi rendah, sehingga rentan memunculkan bencana banjir, tanah longsor, hingga angin kencang,” katanya.

Yang pasti, katanya menambahkan, akibat dampak dari pemanasan global tersebut, telah mempengaruhi jadwal tanam petani, aktivitas nelayan, pelayaran kapal-motor, dan kegiatan penerbangan di daerahnya.(*)

Categories: Krisis Iklim, Sulawesi
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.