Minggu, 23 Agustus 2009 | 22:33 WITA
Kupang, POS KUPANG.Com – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kupang memasok air bersih bagi korban longsor di Desa Tolnako, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Kita telah mendroping sebanyak 20 ribu liter air bagi korban longsor di Tolnako,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PDAM Kupang, Masya Djonu di Kupang, Minggu (23/8/2009).
Sebanyak 32 kepala keluarga (KK) korban longsor Tolnako sampai saat ini masih berada di tempat pengungsian di Desa Fatukoto, Kecamatan Fatuleu. Para korban longsor mulai kesulitan air bersih.
Dia mengatakan, air bersih yang didistribusikan menggunakan mobil tangki sebanyak empat kali ke lokasi longsor, guna mengisi sebanyak enam unit bak penampung bantuan pemerintah bagi korban longsor tersebut. “Rencananya 9 September mendatang, kita droping lagi air sesuai kesepakatan dengan masyarakat di sana,” katanya.
Sementara itu, Asisten II Setda Kabupaten Kupang, Sahrun Nurawi mengatakan, untuk mendapatkan air bersih, masyarakat korban longsor harus menempuh jarak sekitar tiga kilometer.Karena itu, tim dari Pemerintah Daerah akan melakukan survei untuk mencari tempat yang aman untuk memasok air bersih bagi korban lonsor tersebut. “Kita akan lakukan survei lokasi yang aman untuk menyuplai air bersih bagi korban longsor,” katanya.
Berdasarkan rekomendasi Badan Geologi Bandung, kata Sahrun, ada beberapa lokasi yang dianggap aman dari bencana longsor akibat patahan kerak bumi, yakni di desa Oebola Dalam wilayah Puana. “Kita juga sedang berpikir untuk memasang pipa dari sumber air sejauh tiga km ke tempat pengungsian,” ujarnya.
Sebanyak 32 KK yang menjadi korban longsor tersebut, kata Sahrun, telah mendapat bantuan tanah dari tokoh masyarakat di lokasi pengungsian. Bahkan, masyarakat telah mengkavling tanah untuk bercocok tanam. “Mereka telah miliki lahan untuk bercocok tanam, sekarang bagaimana kita pikirkan ketersediaan air di sana,” katanya.
Sebelumnya, korban longsor Fredik Mau mengatakan, masyarakat korban longsor yang diungsikan mulai kesulitan mendapatkan air bersih, karena ketiadaan bantuan dari Pemda. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Pemda membuatkan enam bak penampung, namun bak penampung tersebut kosong. “Pemda membantu ar bersih bagi kami hanya dua kali, yakni 9 Juli dan 13 Juli, selanjutnya tidak lagi,” ucapnya. (ANTARA)