*Targetnya 18.900 Warga yang Kesulitan Air Bersih
Rabu, 12 Agustus 2009 | 22:42 WITA
JAKARTA, POS KUPANG. com — Program Satu untuk Sepuluh (SUS) tahap pertama dari Danone Aqua sudah selesai. Program yang dilaksanakan dari 15 Juni 2007 hingga 31 Juli 2009 di empat kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni Boking, Amanatun Utara, Toianas, dan Noebana, telah dapat menyediakan air bersih untuk 12.000 warga.
“Kami melanjutkan lagi program SUS tahap kedua. Programnya masih sama, dari satu liter Aqua berlabel khusus yang kita jual, akan kita wujudkan sepeluh liter air bersih untuk masyarakat yang membutuhkan. Bila pada tahap pertama 12.000 warga penerima, tahap kedua targetnya 18.900 penerima,” ungkap Brand Director Danone Aqua Baskorohadi Sukatmo dalam peluncuran program SUS tahap dua di Jakarta, Rabu (12/8).
Program SUS tahap kedua ini kembali untuk warga yang tinggal di NTT. Menurut Baskoro, dipilihnya kembali NTT untuk penerapa program SUS tahap ke dua ini dengan berbagai pertimbangan. “Salah satunya adalah kelakaan air bersih di NTT menjadi tantangan yang harus ditangani. Alasan lainnya adalah agar tetap dapat fokus dan berkesinambungan,” tambahnya.
Untuk melaksanakan program ini, Danone Aqua bekerja sama dengan Action Contre la Faim (ACF)-LSM yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan dan LSM lokal, yakni Yayasan Ndua Ate (Yasna).
Dalam proyek ini, sumber mata air di pegunungan desa “ditangkap”, dilindungi (dengan ditutup menggunakan bangunan dari semen), dan dialirkan ke dusun. Penyaluran air dari sumber menerapkan dua prinsip teknologi, yakni berdasar gravitasi dan instalasi pompa hidran.
Masyarakat dilibatkan dalam pengerjaan fisik. Tiap dusun punya Komite Air yang bertugas merawat instalasi. Sebelum ada proyek ini, warga harus berjalan kaki ke sumber air. Jarak rata-rata rumah dengan sumber air 1,3 km. Dengan jalan berbatu, terjal, dan kadang melintas sungai, itu tentu jarak yang jauh plus melelahkan.
Setelah ada proyek ini, warga paling jauh cukup berjalan 200 meter. Dengan kata lain, susahnya warga mendapat air bukan karena daerahnya tak punya sumber air. “Ukuran keberhasilan program ini adalah perbaikan akses air bersih yang diukur dari jumlah dan jarak tempuh yang lebih dekat. Kedua, tumbuhnya kesadaran untuk terbiasa hidup bersih dan sehat. Ketiga, partisipasi masyarakat lokal untuk kelanjutan dari program ini,” kata Rama Rurry, Comunications Officer ACF menambahkan. (Persda Network/ugi)