Spirit NTT Nomor 172 Tahun IV, Edisi 17-23 Agustus 2009
Minggu, 23 Agustus 2009 | 18:41 WITA
ATAMBUA, SPIRIT– Penyebaran virus HIV/AIDS di Kabupaten Belu akhir- akhir ini sungguh mencemaskan. Ini dilihat dari jumlah penderita positif yang teridentifikasi hingga akhir Juli 2009 sebanyak 208 orang. Kabupaten Belu menduduki urutan pertama penderita HIV/AIDS terbanyak di NTT.
Keprihatinan ini disampaikan Wakil Bupati Belu, Taolin Ludovikus, B.A, selaku Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Belu ketika menggelar Malam Peduli AIDS jelang HUT ke-64 Kemerdekaan RI di Lapangan Umum Atambua, Senin (3/8/2009).
Sosialisasi ini diikuti siswa/siswi SMP dan SMU dan masyarakat Kota Atambua. Dengan tema “Stop HIV/AIDS”, KPA Belu mengampanyekan gerakan anti AIDS yang sampai saat ni belum ditemukan obat penyembuhnya.
Menurut Wabup, penyebaran virus yang begitu cepat dikarenakan masyarakat tidak sadar akan perilaku hidup setia dengan pasangannya dan cenderung melakukan seks bebas. Pengguna narkoba dengan menggunakan jarum suntik bersama-sama pun menjadi salah satu penyebab tertularnya virus ini.
Banyak yang menjadi korban risiko pertautan mata rantai interaksi kehidupan manusia yang bebas. Bahkan kata dia, anak muda cenderung mencoba melakukan seks bebas, akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih.
Selain itu wilayah Belu yang berbatasan dengan negara Timor Leste pun cenderung berisiko meningkatnya penularan penyakit mematikan itu.
“Banyak pasangan yang tidak setia, cenderung mendatangi tempat-tempat prostitusi untuk mencari kepuasan sesaat. Tanpa disadari virus ini dengan begitu mudahnya berpindah ke dirinya. Syukur kalau teridentifikasi, tapi kalau tidak, betapa malangnya nasib pasangannya. Belum lagi kepada anak yang dikandungnya otomatis semakin bertambah korban,” katanya.
Menjawab tantangan ini, Wabup mengajak semua komponen untuk ikut bertanggung jawab memerangi virus ini.
Dari 208 penderita positif diperkirakan yang hidup bebas dan belum teridentifikasi berkisar antara 8000 sampai 20 ribu orang. Suatu jumlah yang sangat besar dan mencemaskan banyak pihak.
Kepala Dinas Kesehatan Belu, dr. Lau Fabianus, mengatakan justru yang paling berbahaya adalah orang yang belum teridentifikasi HIV/AIDS. Mereka (tampilan fisik sehat) yang paling berbahaya dan berpotensi menularkan apalagi yang bersangkutan beraktivitas melakukan seks bebas.
Ia mengatakan bahwa kegiatan ini memberi pesan kepada setiap orang betapa bahayanya virus HIV/AIDS dan sangat mengerikan apabila sudah tertular kepada seseorang karena risikonya adalah kematian memilukan.
Sebagai upaya pencegahan, kata dia, salah satu cara adalah masyarakat dapat menjalankan pola hidup setia dan hidup sehat. Bila sudah mengidap virus tersebut maka jangan segan-segan mendatangani rumah sakit yang khusus menangangi penderita HIV/AIDS di Haliwen untuk mendapat perawatan,bimbingan dan pendampingan.
Tokoh Agama Katolik, Romo Yoris Giri, Pr, dalam materinya, “HIV/AIDS dari Sudut Pandang Agama Katolik,” mengatakan bahwa manusia adalah citra Allah. Ia diciptakan berdasarkan gambaran Allah. Karena itu, hormatilah kebebasan manusia sebagai citra Allah itu dengan memposisikan diri, menghargai dan menghormati martabat manusia sebagai ciptaan Allah yang memiliki pikiran dan hati nurani.
Di sinilah kata Romo Giri manusia dibedakan dari makluk hidup yang lain.
Wakapolres Belu, Kompol Bambang Kusniarianto, S.ik, yang membedah Permasalahan, Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba mengatakan, penggunaan jarum suntik bagi pengguna Narkoba memiliki risiko besar masuknya virus HIV/AIDS ke dalam tubuh penggunanya.
“Bagi yang sudah terlanjur agar berkonsultasi ke konselor, bagi yang sudah kecanduan agar merehabilitasi diri, bagi yang belum menggunakan agar jangan sekali-jali mencoba dan bagi yang sudah jadi pengedar, stop. Jangan lanjutkan bisnis terlarang ini,” katanya. (humas pemkab belu